Hati Yang Sebenarnya - 1
"Akan kuceritakan sebuah kisah. Kisah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan hati yang sebenarnya"
Pernah simpati terhadap orang lain? Kemudian menyukainya dan mencintanya? Itu perasaan alami dan lahiriah untuk manusia normal. Rasa sayang dan cinta telah diciptakan di dalam hati kita masing-masing dan itu adalah senjata untuk menciptakan persatuan.
Layaknya anda, aku pun pernah dan dia pun pernah. Melakukan perjalanan dari hati ke hati untuk menemukan hati yang sebenarnya juga pernah kulakukan dan mungkin sampai detik ini pula. Sejak merasakan yang namanya suka terhadap lawan jenis, diriku lebih sensitif terhadap perasaan orang lain dan mungkin itulah salah satu sifat lahiriah wanita.
Aku tidak akan bercerita panjang lebar tentang orang lain dan orang-orang lain yang pernah kusinggahi hatinya. Ada banyak orang dan banyak cerita untuk sekedar suka. Tapi untuk mempercayai hati hanya ada satu orang. Dan itu adalah dia.
Sebelum menemukan hatinya aku pernah dimiliki oleh hati yang lain dan itu dalam waktu yang cukup lama. Namun, selama apapun itu jika antara hati tak saling mempercayai, maka tak akan ada guna untuk mempertahankan. Di samping ada satu hal yang sangat ku percaya, tak lain adalah jodoh dari ALLAH SWT. Sekuat apapun kita bertahan dan sekeras apapun kita berusaha, jika tak dijodohkan oleh-Nya, maka jalan satu-satunya adalah mengikhlaskannya dan percaya bahwa rencana ALLAH SWT lah yang terbaik. Dan saya percaya.
Bercerita tentang dia, hati yang dapat kupercaya. Tak henti-hentinya aku bersyukur karena dia telah terlahir di dunia. Dia adalah sosok yang pantang menyerah dan tak kenal putus asa, itu dari sisiku untuk menilainya. Sebenarnya aku mengenal dia dan cukup dekat dengannya sebelum hatiku termiliki oleh hati yang pernah memiliki, namun semua lagi-lagi jalan-Nya untuk memperindah kisah ini. Bukannya aku tidak tau tentang perasaannya, aku sudah mengetahuinya sejak lama. Tapi sampai waktu itu aku masih menganggapnya sebagai seorang teman cerita sekaligus kakak penolong dan tak lebih dari itu. Walaupun entah beberapa kali dia mengungkapkan perasaannya, namun tetap saja aku tak bisa menerima. Ada hati yang termiliki dan tak bisa kutinggalkan.
Akhirnya waktu terus berjalan, derai masalah pun mulai menghantam hubunganku dengan hati yang termiliki. Seperti yang keceritakan di atas bahwa hanya untuk saling memiliki tanpa mempercayai, tak akan ada gunanya untuk saling bertahan, sehingga hubungan yang cukup lama ini terhenti sampai disitu. Tinggallah diriku dalam kesedihan yang menyayangkan perpisahan itu. Dan sekali lagi kututup pintu hatiku entah untuk siapapun itu.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, dia kembali. Dia sosok yang pantang menyerah itu kembali hadir membawa ketenangan. Awalnya, seperti biasa ku tidak bisa menerima perasaannya dan begitu seterusnya mengingat putus asanya diriku dalam menjalin hubungan. Dan sekali lagi entah kekuatan apa yang dimiliki oleh dia yang membuatnya begitu kuat, begitu sabar menunggu dan akhirnya membuatku kagum. Kagum yang bisa melahirkan banyak perasaan indah lainnya. Sejenak kuberpikir untuk terus menolaknya, namun hati kecilku perlahan berkata lain. Adakah orang lain di luar sana yang bisa setegar dia? Adakah orang di luar sana yang akan menungguku bertahun-tahun lamanya? Adakah orang di luar sana yang pantang menyerah dan tulus memberikan hatinya walaupun telah ditolak berkali-kali? Dan hati ini pun berkata, bukankah kita harus bersyukur dengan adanya orang seperti dia sekitar kita? Berhenti untuk menutup hati dan mulai mengerti hatinya.
Subhanallah, anugerah perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya telah hadir dalam hatiku. Mendengar dia ingin memiliki hatiku untuk sebuah ikatan yang Insya ALLAH diridhoi ALLAH SWT. Hati dan logika menyatu dan meyakini keputusan ini. Keputusan untuk menerima hati, memiliki hati dan mempercayai hati. Aku pun menerima lamarannya. Lamaran untuk menikah.
~ ^_^
Saat ini, ketika tulisan ini kubuat, kami belum melangsungkan pernikahan. Insya ALLAH 2 bulan ke depan. Amin Ya Rabb. Alhamdulillah, persiapan sampai saat ini dilancarkan oleh-Nya dan ku terus berdoa untuk dilancarkan seterusnya. Hubungan kami, kadangkala masih sulit kupercaya namun hubungan ini begitu indah. Sekali pun kami tidak pernah mengikat hubungan ini atas nama pacaran. Tidak sama sekali. Dua insan yang saling mengagumi dan belum terikat oleh ikatan yang sah. Ini merupakan saat-saat yang lain dari lain selama hidupku namun tetap kunikmati setiap tahap menjelang pernikahan kami.
10 hari lagi, Insya ALLAH akan diadakan acara "Mappettuada", salah satu acara adat Bugis Sulawesi Selatan untuk menjelang hari pernikahan. Untuk acara itupun, ku tak sabar menunggunya. :)
Tak henti-hentinya ku bersyukur dengan semua jalan yang diberikan ALLAH SWT walaupun hari pernikahan kami masih lama, dan tak henti-hentinya kuberdoa agar ALLAH SWT merealisasikan semuanya, pernikahan kami dan diridhoi oleh-Nya. Amin Ya Rabbal Aalamin.
Insya ALLAH cincin ini adalah kesepakatan kami. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar